Adapun manusia, bila Rabb-nya mengujinya lalu
dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia
berkata : “Rabbku telah memuliakanku.  Sedang jika
Rabbnya mengujinya, lalu ia mengurangi rezekinya, maka
ia berkata, “Rabbku menghinaku.” (QS. Al-Fajr : 15-16)

Kita semua umumnya pernah mengalami. Memohon pada
Allah dengan sepenuh hati, khusyu, agar Allah
memberikan sesuatu yang kita inginkan. Meminta dengan
penuh harap kepada Allah untuk mengabulkan permintaan
yang kita anggap itulah kenyataan yang paling baik.
Berharap pada Allah agar Allah memberikan kita sebuah
nikmat yang dalam pandangan kita, nikmat itulah yang
paling tepat untuk kita. Tapi … ternyata, permintaan
itu tak kunjung dikabulkan oleh Allah swt.

Mungkin, banyak di antara kita yang mengalami keadaan
seperti ini mengeluh, kecewa, putus asa, frustasi, dan
sebagainya. Padahal, pernahkah kita berpikir, sejauh
mana kebenaran asumsi kita bahwa penundaan pemberian
Allah itu adalah suatu bencana? Atau, pernahkah kita
merenungkan, mungkin penundaan permintaan kita itu
justru karunia yang harus kita syukuri? Apakah
pengabulan do’a dan harapan itu selalu bermakna
kemuliaan dari Allah untuk kita? Atau apakah pemberian
langsung Allah kepada kita itu justru sebuah bencana?
Kita tidak pernah tahu rahasia itu semua.

Menganggap bahwa pemberian itu bukti kemuliaan dan
penundaan pemberian itu keburukan, merupakan sikap
yang disinggung dalam firman Allah swt, “Adapun
manusia, bila Rabb-nya mengujinya lalu dimuliakan-Nya
dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata : “Rabbku
telah memuliakanku. Sedang jika Rabbnya mengujinya,
lalu ia mengurangi rezekinya, maka ia berkata, “Rabbku
menghinaku.” (QS. Al-Fajr : 15-16) Manusia yang
diceritakan dalam firman Allah itu, menganggap
kesenangan identik dengan kemuliaaan dari Allah.
Sebaliknya pengurangan rizki itu identik dengan
penghinaan dari Allah.

Pemberian dan penundaan nikmat merupakan masalah yang
paling penting dan amat berpengaruh dalam kehidupan
seseorang. Sayangnya seperti firman Allah tersebut,
banyak banyak orang yang keliru memahami masalah itu.
Dan karena itulah al-Qur`an meluruskannya. Seringkali
Allah menangguhkan pemberian dunia pada makhluk yang
paling dicintai-Nya, sementara Ia mencurahkan segala
macam kesenangan dunia kepada makhluk yang paling
dimurkai-Nya. Karena itu, pemberian duniawi dari Allah
bukan tanda kemuliaan, dan penahanan pemberian bukan
tanda kehinaan.

Ibnu Athaillah berkata, “Jika Allah menahan
pemberian-Nya padamu, maka pahamilah bahwa itu adalah
suatu karamah (kemuliaan) untukmu selama kau
pertahankan keislaman dan keimananmu, hingga segenap apa
yang dilakukan Allah kepada dirimu menjadi karunia
pula kepadamu.”  Ia kemudian  melanjutkan, “Cukuplah
sebagai balasan Allah atas ketaatanmu, jika Dia ridha
kepadamu karena engkau menjadi orang yang taat
kepadanya. Cukuplah sebagai balasan atas orang-orang
yang beramal, Allah bukakan hatinya untuk menjalankan
ketaatannya, dan apa saja yang diberikan pada mereka
berupa kesenangan terhadap-Nya.”